i Ada di Tangan Anak .
Sering aku berangan-angan dan juga membayang-bayangkan, betapa senangnya seandainya aku mempunyai anak yang jenius, cerdas, pinter, setiap tahun selalu menjadi langganan juara kelas bahkan juara sekolah. Setiap tahun selalu berada pada rangking tertinggi di kelas maupun sekolah. Menjadi anak terpandang dalam intelektual yang, tentu saja, selanjutnya akan membawa nama baik bagi keluarga. Ooouuww..... indahnya hayalan dan lamunan itu.
Tapi, pernahkan kita berfikir realistis dan melihat kenyataan bahwa mencetak anak kita untuk menjadi jenius adalah tidak segampang membalikkan telapak tangan ?? Sebenarnya, sudah sejauh mana usaha kita untuk memberikan pendidikan kepada anak ?? sejauh mana pula kita memberikan pengajaran kepada anak ?? Adakah kita sudah memberikan pengajaran kepada anak di rumah ? Ataukah kita hanya menyerahkan semuanya itu kepada sekolah ??
Banyak tulisan-tulisan yang kebanyakan hanya cenderung mengarah pada psichology perkembangan anak yang menyoroti apa dan siapa si anak, menjadikannya sebagai obyek pengamatan juga obyek penelitian. Tetapi sebenarnya untuk mendapatkan hasil yang benar, kita seharusnya memandang dan menempatkan anak sebagai subyek yang tumbuh dan berkembang yang tentunya amat sangat diperlukan dasar fondamen yang kuat untuk menuju perkembangan yang maksimal di masa depannya. Fondamen itu adalah pendidikan dan pengajaran.
Dalam rangkaian pendidikan anak, yang perlu diperhatikan adalah pendidikan itu harus terjadi di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada. Di tempat-tempat inilah merupakan pusat pendidikan yang sebenarnya. Disekolah, sudah pasti karena lembaga ini didirikan untuk keperluan pendidikan dan pengajaran. Dengan menggunakan dasar acuan kurikulum yang sudah tersusun sistematis inilah anak-anak di ajar dan dididik dengan ‘benar’, namun biasanya pendidikan di sekolah lebih mengarah kepada pendidikan intelektualnya.
Di rumah, secara sadar ataupun tidak, anak di kembangkan sendiri oleh orang tuanya, tentunya tidak seperti di sekolah yang lebih mengarah kepada perkembangan intelektual. Pendidikan di rumah ini tentunya lebih bisa diarahkan untuk perkembangan kejiwaan ataupun tatakrama dan sopan santun.
Pendidikan di rumah, juga biasanya bisa di arahkan bersama-sama dengan pendidikan di sekolah dan ‘menyinggung’ masalah-masalah pengajaran yang ada di sekolah.
Di masyarakat lingkungannya, anak-anak sebenarnya sangat banyak menyerap informasi, bahkan lingungan ini biasanya sangat dominan dalam perkembangan kejiwaan dan tingkah laku anak. Karena lingkungan ini lebih beragam dan biasanya menyenangkan dalam dunia anak-anak. Sering kali efek dari informasi yang diserap dari lingkungan ini lebih tampil dominan dalam membentuk karakter, sikap dan kejiwaan anak-anak kita.
Selanjutnya, sudahkah kita mengamati perkembangan yang ada pada anak kita ? apa yang seharusnya kita perlakukan kepada mereka ? Mungkin kita semua setuju, bahwa anak adalah masa depan bangsa, jika kita bisa memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anak maka di masa mendatang bangsa ini akan menjadi bangsa yang benar-benar tangguh. Yang tidak mudah terombang ambing hanya gara-gara krisis atau yang sengaja di buat krisis oleh bangsa lain.
Namun, biasanya kita hanya berpikir dan berkeinginan bahwa anak kita harus nurut kata orang tuanya.
Bagaimana komentar anda ?
Sering aku berangan-angan dan juga membayang-bayangkan, betapa senangnya seandainya aku mempunyai anak yang jenius, cerdas, pinter, setiap tahun selalu menjadi langganan juara kelas bahkan juara sekolah. Setiap tahun selalu berada pada rangking tertinggi di kelas maupun sekolah. Menjadi anak terpandang dalam intelektual yang, tentu saja, selanjutnya akan membawa nama baik bagi keluarga. Ooouuww..... indahnya hayalan dan lamunan itu.
Tapi, pernahkan kita berfikir realistis dan melihat kenyataan bahwa mencetak anak kita untuk menjadi jenius adalah tidak segampang membalikkan telapak tangan ?? Sebenarnya, sudah sejauh mana usaha kita untuk memberikan pendidikan kepada anak ?? sejauh mana pula kita memberikan pengajaran kepada anak ?? Adakah kita sudah memberikan pengajaran kepada anak di rumah ? Ataukah kita hanya menyerahkan semuanya itu kepada sekolah ??
Banyak tulisan-tulisan yang kebanyakan hanya cenderung mengarah pada psichology perkembangan anak yang menyoroti apa dan siapa si anak, menjadikannya sebagai obyek pengamatan juga obyek penelitian. Tetapi sebenarnya untuk mendapatkan hasil yang benar, kita seharusnya memandang dan menempatkan anak sebagai subyek yang tumbuh dan berkembang yang tentunya amat sangat diperlukan dasar fondamen yang kuat untuk menuju perkembangan yang maksimal di masa depannya. Fondamen itu adalah pendidikan dan pengajaran.
Dalam rangkaian pendidikan anak, yang perlu diperhatikan adalah pendidikan itu harus terjadi di rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada. Di tempat-tempat inilah merupakan pusat pendidikan yang sebenarnya. Disekolah, sudah pasti karena lembaga ini didirikan untuk keperluan pendidikan dan pengajaran. Dengan menggunakan dasar acuan kurikulum yang sudah tersusun sistematis inilah anak-anak di ajar dan dididik dengan ‘benar’, namun biasanya pendidikan di sekolah lebih mengarah kepada pendidikan intelektualnya.
Di rumah, secara sadar ataupun tidak, anak di kembangkan sendiri oleh orang tuanya, tentunya tidak seperti di sekolah yang lebih mengarah kepada perkembangan intelektual. Pendidikan di rumah ini tentunya lebih bisa diarahkan untuk perkembangan kejiwaan ataupun tatakrama dan sopan santun.
Pendidikan di rumah, juga biasanya bisa di arahkan bersama-sama dengan pendidikan di sekolah dan ‘menyinggung’ masalah-masalah pengajaran yang ada di sekolah.
Di masyarakat lingkungannya, anak-anak sebenarnya sangat banyak menyerap informasi, bahkan lingungan ini biasanya sangat dominan dalam perkembangan kejiwaan dan tingkah laku anak. Karena lingkungan ini lebih beragam dan biasanya menyenangkan dalam dunia anak-anak. Sering kali efek dari informasi yang diserap dari lingkungan ini lebih tampil dominan dalam membentuk karakter, sikap dan kejiwaan anak-anak kita.
Selanjutnya, sudahkah kita mengamati perkembangan yang ada pada anak kita ? apa yang seharusnya kita perlakukan kepada mereka ? Mungkin kita semua setuju, bahwa anak adalah masa depan bangsa, jika kita bisa memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anak maka di masa mendatang bangsa ini akan menjadi bangsa yang benar-benar tangguh. Yang tidak mudah terombang ambing hanya gara-gara krisis atau yang sengaja di buat krisis oleh bangsa lain.
Namun, biasanya kita hanya berpikir dan berkeinginan bahwa anak kita harus nurut kata orang tuanya.
Bagaimana komentar anda ?
