(YUK .. BELAJAR DARI PENGALAMAN)
Betapa besar nikmat dan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada segala kehidupan di alam ini dengan segala kekayaannya. Semuanya sebenarnya dapat digunakan semurah-murahnya untuk kepentingan kehidupan kita semua. Namun faktanya, manusia sebagai pengguna kekayaan alam ini sangat tidak sopan terhadap alam itu sendiri. Sebenarnya kesopanan dalam penggunaan segala kekayaan alam itu seharusnya dijaga dengan cara memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ini dengan hati-hati dan dengan memperhitungkan segala akibat yang timbul atas penggunaannya serta memperhitungkan pemulihan atas kerusakan yang ditimbulkannya di samping harus menjaga kelestarian alam itu sendiri demi anak cucu dan generasi mendatang.
Namun apa yang terjadi, sejarah telah membuktikan bahwa makhluk yang namanya manusia ternyata lebih menampakkan keserakahan dan mamainkan kerakusannya dibanding makhluk-makhluk lain yang ada. Walau konon katanya, manusia ini diciptakan dan dilengkapi dengan kecerdasan yang tinggi serta mendapat mandat berkuasa atas makhluk ciptaan yang lainnya.
Sejujurnya, mungkin sampai dengan saat ini kita masih bisa dengan enak dan nyaman untuk menggunakan energi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita, seperti air untuk minum, mandi, cuci, dan kepentingan sanitasi lainnya. Juga udara untuk kepentingan kehidupan. Serta energi-energi lainnya. Tapi sejujurnya pula, sudah terlalu banyak tanda-tanda alam bahwa kita manusia ini akan mengalami kesulitan dalam mempergunakan energi yang tersedia dengan begitu banyak di alam ini.
Perhatikan saja, mulai dari adanya kekeringan dimana-mana, gagal panen dan sebagainya sampai pada munculnya penyakit-penyakit yang aneh-aneh yang tidak sewajarnya menimpa pada golongan manusia dengan ukuran usia tertentu. Seperti dilansir GREENPEACE dalam websitenya bahwa ditunjukkan contoh seorang anak yang ditampilkan fotonya, berasal dari Belarus, yang baru berusia 3 tahun saat dia divonis menderita kanker rahim dan paru-paru. Menurut catatan dari dokter setempat mengatakan bahwa penderita kanker pada anak-anak meningkat pesat semenjak bencana Chernobyl.
Belum lagi, kata orang-orang pinter, efek rumah kaca yang berakibat pada naiknya suhu udara atau pemanasan global dan akibat selanjutnya pada mencairnya es di puncak-puncak gunung, juga mencairnya es di kutub.
Ambil contoh, di puncak Himalaya, menurut majalah BASIS edisi 50-06, 2007 disebutkan, bila dalam lima puluh tahun mendatang suhu global naik 4oC, maka es yang ada akan semakin banyak mencair, selanjutnya jika kenaikan suhu ini signifikan, maka es di puncak Himalaya akan menghilang. Sementara, es di puncak Himalaya adalah cadangan air bagi banyak negara di Asia.
Disebutkan pula bahwa 15% dari jumlah es di alam ini dicukupi oleh persediaan yang ada di puncak Himalaya tersebut. Lelehan es di puncak Himalaya ini akan mengalir melalui sungai-sungai besar seperti Indu, Gangga, Mekong dan Jangtze, dan dari air yang ada ini dapat mencukupi kebutuhan lebih dari 500 juta jiwa yang menggantungkan kebutuhan air dari Hilamaya.
Terus bagaimana dengan Indonesia ? Negara kepulauan yang terdiri dari pulau-pulau yang tersebar di sekitar khatulistiwa, dengan jumlah yang sangat banyak dan dengan lautan yang tentunya memberikan kontribusi uap yang sangat banyak pula, sebagai cadangan air di angkasa yang pada masanya akan menjadi hujan dan selanjutnya menjadikan tanah dapat menumbuhkan berbagai macam tanaman yang sangat bermanfaat bagi kehidupan binatang, dan tentu saja, manusia sendiri.
Namun apa yang terjadi ? Bencana alam dimana-mana baik musim penghujan begitu juga pada saat musim kemarau. Musim penghujan, banyak terjadi banjir dimana-mana. Masyarakat Aceh yang baru saja dilanda Tsunami dan belum pulih dari trauma bencana yang merenggut ribuan jiwa, harus menerima kenyataan dengan datangnya banjir bandang yang menewaskan puluhan orang masyarakatnya. Begitu juga yang terjadi di Sumatera Utara, banjir di Mandailing Natal telah merenggut puluhan jiwa melayang. Hutan alami di Riau di tebangi hingga hanya tersisa tidak lebih dari 5 % atau 6 % saja. Lain halnya dengan Jawa Tengah di musim kemarau, kekeringan terjadi dimana-mana dan berakibat gagalnya panen rakyat. Rehabilitasi ? Sudah bisa dipastikan diperlukan dana yang jumlahnya milyaran rupiah pada masing-masing daerah tersebut. Tentunya suatu jumlah yang sangat besar dan seharusnya tidak perlu ada apabila lingkungan ditata dan penataannya sesuai dengan daya dukung lingkungan yang ada.
Bagaimana Komentar anda ??
Disadur bebas dari BASIS, No. 05-06, Mei-Juni 2007 & Greenpeace Web.
i persiapan kita di masa mendatang ??
It's a SONY
8/31/2008
8/06/2008
MEMBERDAYAKAN WIRAUSAHAWAN SEJATI
MEMBERDAYAKAN WIRAUSAHAWAN SEJATI
Beberapa waktu yang lalu, saat jalan-jalan di Kota Yogyakarta, yah sekedar menghibur diri dan melepaskan sejenak rasa penat dan rasa jenuh setelah setiap hari selalu di kungkung dalam kesibukan yang tak kunjung reda. Di saat jalan-jalan sambil larak lirik kesana kemari, aku lihat sebuah buku kecil yang cukup menarik, yang kemudian coba untuk melihat lebih detail, ternyata buku ini berisi tentang motivasi yang mendorong untuk maju dan berkembang melalui kewirausahaan (entrepreneur).
Buku yang ditulis oleh pelakunya sendiri ini merupakan cerminan sekaligus curahan atas tingkah polah dan jiwa yang telah dialami pelaku selama bertahun-tahun, selain itu juga falsafah bisnis yang dianutnya. Mulai dari awal mula membuka usaha dari nol sampai sekarang, dimana usaha yang digelutinya sudah berkembang sangat maju dan menjadi bertambah banyak.
Namun yang tak kalah menariknya adalah, pada kata pengantar dari editor, yakni Bpk. Joko Indro Cahyono, selaku Direktur Entrepreneur University, yang mengangkat tema pentingnya jiwa kewirausahaan untuk selalu di munculkan, di pupuk dan ditumbuh-kembangkan pada diri setiap orang dalam rangka untuk berperan aktif dalam memajukan kehidupan masyarakat Indonesia.
Seperti di tuturkan Pak Joko, si penulis kata pengantar sekaligus sebagai editor buku tersebut, bahwa pembangunan ekonomi di Indonesia ini tidak terlepas dari peran aktif Sumberdaya Manusia yang unggul, tangguh, mandiri dan profesional serta mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi yang berjiwa entrepreneur (wirausahawan). Artinya, dengan banyak memiliki entrepreneur sejati yang unggul dan tangguh, baik dari kelas menengah maupun bawah, maka pembangunan ekonomi di Indonesia akan tetap berkelanjutan dan dengan demikian perekonomian akan semakin maju.
Menurutnya, dan mungkin pandangan kita semua, pemberdayaan masyarakat entrepreneur (wirausahawan) adalah sebuah usaha pengelolaan, motivasi dan pelaksanaan untuk keperluan jangka panjang, bukan sekedar aktivitas sesaat atau temporer yang sangat tergantung waktu. Karena bagaimanapun aktivitas ini adalah untuk keperluan fight dalam menghadapi kehidupan baik diri sendiri maupun keperluan masyarakat banyak. Dalam hal ini dapat dicontohkan pada saat badai krisis ekonomi menghantam segala segi kehidupan dari beberapa tahun yang lalu yang hingga kini belum juga tuntas, kalangan entrepreneur (wirausahawan) telah dengan gemilang menunjukkan kepada dunia bahwa kalangan inilah yang telah mampu memberikan solusi keluar dari masalah yang pelik, buktinya mereka mampu mengatasi persoalan hidup yang serba tidak menentu dengan mengandalkan pada kekuatan diri yang tangguh, ulet, profesional dan serba bisa serta tidak gampang menyerah dalam berbagai macam perwujudannya.
Selain itu juga disinggung, betapa hebatnya para kalangan entrepreneur sejati ini masih bisa bertahan dan bahkan sebagian dari mereka berbalik mendapatkan rejeki yang lebih baik di saat para pengusaha yang “besar karena dulunya mendapatkan berbagai fasilitas” itu saling berguguran. Hal ini terjadi karena mereka (wirausahawan / entrepreneur) mempunyai sifat dan sikap tekun, rajin, percaya dan yakin atas apa yang dia usahakan suatu saat pasti akan membuahkan hasil. Dengan sikap ini mereka mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, bahkan kebanyakan dari mereka berpikir tidak hanya untuk menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga untuk kepentingan orang lain, masyarakat banyak.
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat entrepreneur ini, barangkali dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut;
1. Ciptakan suasana atau iklim yang kondusif untuk berkembangnya masyarakat entrepreneur, dengan acuan utama bahwa setiap masyarakat memiliki potensi menjadi entrepreneur yang bisa, dan seharusnya, ditumbuh-kembangkan semaksimal mungkin.
2. Perlu diusahakan secara terus menerus untuk memperkuat potensi masyarakat untuk menjadi masyarakat entrepreneur pada semua strata atau lapisan, terlebih untuk lapisan masyarakat menengah kebawah dan generasi muda sehingga mempunyai kemampuan dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat di saat-saat krisis maupun untuk masa yang akan datang.
3. Diperlukan suatu peraturan pemerintah yang tegas dan jelas yang berpihak pada masyarakat entrepreneur.
4. Perilaku feodalisme sudah selayaknya untuk ditinggalkan, dalam hal ini kegiatan ekonomi juga seyogyanya dilakukan secara desentralistik, sebab kegiatan yang bersifat sentralistik terbukti hanya menciptakan kekuatan pada kelompok tertentu dan akan terjadi pemusatan aset dan kegiatan ekonomi pada beberapa orang atau kelompok saja.
Menurutnya, menurut sang editor, hal seperti itu adalah sejalan dengan trend yang sedang menggejala di negara-negara maju dan berkembang, golongan entrepreneur (wirausahawan) telah banyak terbukti mampu memerankan peran penting yang strategis dan berkualitas tinggi dalam membangun kehidupan masyarakatnya, yang akhirnya membuat negaranya mempunyai kemampuan yang lebih dari negara-negara lainnya.
Sekilas, buku tersebut menjelaskan masalah perlunya jiwa entrepreneur (wirausaha) dimiliki oleh setiap golongan dan lapisan masyarakat dalam rangka membangun dan memajukan taraf hidup bangsa ini, karena bagaimanapun, kita sebagai anggota masyarakat dan warga negara di negara yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini sangat mengharapkan adanya penyelesaian dan penuntasan dari masalah-masalah yang selalu menghimpit kehidupan kita semua.
Bagaimana komentar anda ???
Beberapa waktu yang lalu, saat jalan-jalan di Kota Yogyakarta, yah sekedar menghibur diri dan melepaskan sejenak rasa penat dan rasa jenuh setelah setiap hari selalu di kungkung dalam kesibukan yang tak kunjung reda. Di saat jalan-jalan sambil larak lirik kesana kemari, aku lihat sebuah buku kecil yang cukup menarik, yang kemudian coba untuk melihat lebih detail, ternyata buku ini berisi tentang motivasi yang mendorong untuk maju dan berkembang melalui kewirausahaan (entrepreneur).
Buku yang ditulis oleh pelakunya sendiri ini merupakan cerminan sekaligus curahan atas tingkah polah dan jiwa yang telah dialami pelaku selama bertahun-tahun, selain itu juga falsafah bisnis yang dianutnya. Mulai dari awal mula membuka usaha dari nol sampai sekarang, dimana usaha yang digelutinya sudah berkembang sangat maju dan menjadi bertambah banyak.
Namun yang tak kalah menariknya adalah, pada kata pengantar dari editor, yakni Bpk. Joko Indro Cahyono, selaku Direktur Entrepreneur University, yang mengangkat tema pentingnya jiwa kewirausahaan untuk selalu di munculkan, di pupuk dan ditumbuh-kembangkan pada diri setiap orang dalam rangka untuk berperan aktif dalam memajukan kehidupan masyarakat Indonesia.
Seperti di tuturkan Pak Joko, si penulis kata pengantar sekaligus sebagai editor buku tersebut, bahwa pembangunan ekonomi di Indonesia ini tidak terlepas dari peran aktif Sumberdaya Manusia yang unggul, tangguh, mandiri dan profesional serta mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi yang berjiwa entrepreneur (wirausahawan). Artinya, dengan banyak memiliki entrepreneur sejati yang unggul dan tangguh, baik dari kelas menengah maupun bawah, maka pembangunan ekonomi di Indonesia akan tetap berkelanjutan dan dengan demikian perekonomian akan semakin maju.
Menurutnya, dan mungkin pandangan kita semua, pemberdayaan masyarakat entrepreneur (wirausahawan) adalah sebuah usaha pengelolaan, motivasi dan pelaksanaan untuk keperluan jangka panjang, bukan sekedar aktivitas sesaat atau temporer yang sangat tergantung waktu. Karena bagaimanapun aktivitas ini adalah untuk keperluan fight dalam menghadapi kehidupan baik diri sendiri maupun keperluan masyarakat banyak. Dalam hal ini dapat dicontohkan pada saat badai krisis ekonomi menghantam segala segi kehidupan dari beberapa tahun yang lalu yang hingga kini belum juga tuntas, kalangan entrepreneur (wirausahawan) telah dengan gemilang menunjukkan kepada dunia bahwa kalangan inilah yang telah mampu memberikan solusi keluar dari masalah yang pelik, buktinya mereka mampu mengatasi persoalan hidup yang serba tidak menentu dengan mengandalkan pada kekuatan diri yang tangguh, ulet, profesional dan serba bisa serta tidak gampang menyerah dalam berbagai macam perwujudannya.
Selain itu juga disinggung, betapa hebatnya para kalangan entrepreneur sejati ini masih bisa bertahan dan bahkan sebagian dari mereka berbalik mendapatkan rejeki yang lebih baik di saat para pengusaha yang “besar karena dulunya mendapatkan berbagai fasilitas” itu saling berguguran. Hal ini terjadi karena mereka (wirausahawan / entrepreneur) mempunyai sifat dan sikap tekun, rajin, percaya dan yakin atas apa yang dia usahakan suatu saat pasti akan membuahkan hasil. Dengan sikap ini mereka mampu mengembangkan usahanya secara mandiri, bahkan kebanyakan dari mereka berpikir tidak hanya untuk menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga untuk kepentingan orang lain, masyarakat banyak.
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat entrepreneur ini, barangkali dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut;
1. Ciptakan suasana atau iklim yang kondusif untuk berkembangnya masyarakat entrepreneur, dengan acuan utama bahwa setiap masyarakat memiliki potensi menjadi entrepreneur yang bisa, dan seharusnya, ditumbuh-kembangkan semaksimal mungkin.
2. Perlu diusahakan secara terus menerus untuk memperkuat potensi masyarakat untuk menjadi masyarakat entrepreneur pada semua strata atau lapisan, terlebih untuk lapisan masyarakat menengah kebawah dan generasi muda sehingga mempunyai kemampuan dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat di saat-saat krisis maupun untuk masa yang akan datang.
3. Diperlukan suatu peraturan pemerintah yang tegas dan jelas yang berpihak pada masyarakat entrepreneur.
4. Perilaku feodalisme sudah selayaknya untuk ditinggalkan, dalam hal ini kegiatan ekonomi juga seyogyanya dilakukan secara desentralistik, sebab kegiatan yang bersifat sentralistik terbukti hanya menciptakan kekuatan pada kelompok tertentu dan akan terjadi pemusatan aset dan kegiatan ekonomi pada beberapa orang atau kelompok saja.
Menurutnya, menurut sang editor, hal seperti itu adalah sejalan dengan trend yang sedang menggejala di negara-negara maju dan berkembang, golongan entrepreneur (wirausahawan) telah banyak terbukti mampu memerankan peran penting yang strategis dan berkualitas tinggi dalam membangun kehidupan masyarakatnya, yang akhirnya membuat negaranya mempunyai kemampuan yang lebih dari negara-negara lainnya.
Sekilas, buku tersebut menjelaskan masalah perlunya jiwa entrepreneur (wirausaha) dimiliki oleh setiap golongan dan lapisan masyarakat dalam rangka membangun dan memajukan taraf hidup bangsa ini, karena bagaimanapun, kita sebagai anggota masyarakat dan warga negara di negara yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini sangat mengharapkan adanya penyelesaian dan penuntasan dari masalah-masalah yang selalu menghimpit kehidupan kita semua.
Bagaimana komentar anda ???
Subscribe to:
Posts (Atom)
